Home » » Siliwangi Pelestari Lingkungan Hidup

Siliwangi Pelestari Lingkungan Hidup

Tulisan mengenai alam maupun lingkungan hidup ini disimak lagi untuk melengkapi tulisan terdahulu yang berjudul “Karuhun Siliwangi Penggagas Lingkungan Hidup” dan “Mengkaji Manusia dengan Alam”. Diharapkan dengan tulisan ini akan menambah wawasan khususnya penulis dalam upaya lebih memperteguh kecintaan terhadap alam. Catatan ini, terinspirasi tatkala Tim Perjalanan Pajajaran Siliwangi menelusuri jejak menuju Situs Cengkuk yang berada dikaki Gunung Lawang daerah kawasan sekitar Gunung Halimun Sukabumi Jawa Barat. Semoga dengan catatan mengenai alam jagat raya ini bermanfaat bagi siapapun, wabil khusus untuk putra-putraku yang tersayang.


 
Situs Cengkuk berada pada tahun 187 SM

Sejatinya, manusia hidup tetap menghendaki ketergantungan terhadap alam dan alam memang menjadi kebutuhan mutlak manusia karena sebagaimana dimaklumi bahwa sumber kehidupan manusia didominasi dari zat alam atau unsur alam antara lain ; air, udara, sinar matahari, zat bumi yang hidup melalui tumbuhan yang dibutuhkan yaitu padi, buah, umbi-umbian dan sereal serta bagian lainnya dari tumbuhan. Bahkan mungkin banyak tanaman yang seutuhnya menjadi konsumsi manusia. Manusia bisa dikatagorikan rakus dan bisa juga dikatakan kodratnya ketergantungan hidup melahap tumbuhan ?

Nun jauh diatas sana, sinar surya dengan terik dan terang benderang menyaksikan laku lampah manusia. Tanpa disadari bahwa yang menerangi alam setiap hari merupakan saksi alam yang rela tanpa berkeluh kesah memancarkan sinarnya. Padahal tanpa cahaya matahari tersebut mungkin kondisi didunia ini gelap gulita tanpa ada kehidupan, benarkah demikian ?. Tentu saja karena ternyata manusia tanpa cahaya tersebut, tidak akan hidup karena dari sinar itulah segala sumber kehidupan manusia.

Apabila diamati dari sinar nurcahya tersebut, akan nampak bermacam-macam warna. Ternyata matahari mengeluarkan berupa zat warna hijau, kuning, merah, ungu, putih, biru, orange dan terdapat warna pink. Warna warni tersebut yang telah dipancarkan  ke hamparan alam,  menjadikan tumbuhan atau pepohonan berpengaruh terhadap warna daun, bunga, kulit pohon  maupun bentuk tanaman. Jika diperhatikan dengan seksama, nampak warna sinar surya mendominasi tumbuhan yang warna bunga, dedaunan, batang pohon maupun ranting walau kadang terdapat juga warna yang kombinasi. Itulah kekuatan sang surya padahal jutaan kilometer jarak bumi dan matahari. Tetapi sungguh menakjubkan kekuatannya dapat dirasakan dan dilihat pengaruhnya sangat besar bagi kehidupan makhluk dibumi.

 
Alang-alang bukan penghalang perjalanan

Sebaliknya bumi juga sebagai saksi alam, seolah menyambut kehangatan matahari dengan mengeluarkan zatnya berupa aneka tumbuhan yang dikodratkan sesuai kehendak Pencipta-Nya.  Sehingga terkesan antara  matahari yang nun jauh disana dengan hamparan bumi seolah-olah terdapat koordinasi yang terjalin baik. Maka dari atas jagat raya ini tumbuh pepohonan beraneka macam bentuk, jenis dan rumpunya serta terlihat warna dominan yang dikeluarkan sinar matahari. Ragam corak tumbuhan  terlihatlah oleh kasat mata berwarna-warni yang sesuai dari zat sinar matahari yaitu; warna hijau, kuning, merah, ungu, putih, biru, orange dan pink. Tujuh warna tersebut, melambangkan dengan jumlah tujuh edaran waktu bumi berevolusi selama hampir 24 jam yang diciptakan Allah SWT dan diberi nama oleh manusia sebagai penghuni alam dengan sebutan hari ; Senin, Selasa, Rabu, Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu.

Keharmonisan saksi kehidupan manusia disertai pula oleh air. Dengan kekuatan matahari pula zat air diserap ke atas. Kemudian setelah air menggumpal, didorong oleh kekuatan angin, setelah itu maka hancurlah gumpalan mega menjadi cairan hujan. Dengan kesejukan air dan kehangatan matahari, seluruh embrio yang berada dihamparan bumi, tumbuhlah sesuai kehendak-Nya. Apabila manusia sengaja menanam atau sekalipun tidak sengaja tetap alam menyediakan tumbuhan bagi manusia. Namun entahlah manusia memanfaatkan pepohonan untuk apa, tetapi selama ini akal manusia memanfaatkan tumbuhan diantaranya :

1. Memanfaatkan bunga 
Untuk penyejuk pemandangan mata. Keindahan bunga banyak dipuja, dihirup harumnya. Bahkan digunakan untuk tanda cinta terhadap lawan jenis, untuk tanda simpati kepada keluarga yang berkabung, untuk tanda simpati terhadap arwah. Malah ada bunga tertentu di jadikan obat maupun kosmetik. Dari zat bunga itu pula lebah menghisap. Kemudian lebah menghimpun di suatu sarang. Setelah melewati waktu tertentu, manusia pula yang memanfaatkan madunya. 

2. Memanfaatkan buah
Buah-buah untuk dikonsumsi penyempurna vitamin, untuk dimakan sebagai penyedap masakan, untuk obat bahkan ada buah untuk persembahan kepada roh leluhur.


 
Buah Nan Nam yang mulai langka


3. Memanfaatkan daun
Daun-daun banyak dimanfaatkan untuk makanan manusia dan binatang ternak. Terdapat daun untuk teman makan, penyedap masakan, untuk kemasan makanan,  Malahan untuk komunitas masyarakat tertentu banyak daun dijadikan obat-obatan. Terdapat juga daun untuk bahan upacara ritual persembahan terhadap arwah leluhur.

4. Memanfaatkan Kayu
Kayu banyak diburu manusia untuk bahan bangunan, untuk kenyamanan manusia beristirahat santai, tidur atau kebutuhan rumah tangga lainnya. Malah sekalipun yang terkecil masih dibutuhkan sebagai bahan bakar. Dilain pihak, terdapat kayu untuk kepentingan kesehatan manusia  dan banyak lagi hajat hidup manusia yang selalu menggunakan kayu.

5. Memanfaatkan akar
Sekalipun hanya akar manusia juga dengan akalnya memanfaatkan akar-akaran untuk dijadikan obat-obatan. Apalagi jika akar berupa wujud umbi-umbian yang dapat dikonsumsi, maka dilahap pulalah.

6. Memanfaatkan sebagai peneduh
 Jika suatu pohon belum diketahui manfaatnya, apalagi berukuran tinggi dan besar, maka manusia memanfaatkan pohon tersebut untuk dijadikan peneduh dari terik matahari.

7. Memanfaatkan sebagai penghijauan
Terdapat sebaran manusia yang tidak terkendali, kadang tanpa perhitungan membangun tempat tinggal dikawasan bahaya longsor, namun dengan kecerdesannya manusia menanam pepohonan yang dianggap mampu menjadi penahan longsor dengan dalih penghijauan lingkungan hidupnya.

Sungguh luar biasa akal manusia memanfaatkan tumbuhan atau pepohonan untuk kepentingannya. Dari zat tumbuhan maupun fisik pepohonan itu hampir  seluruhnya dikelola manusia untuk privasi kehidupannya agar lebih tenang, nyaman, sehat, kenyang dan segalanya terpenuhi. Memang jika tanaman dikelola dengan kasih sayang dan benar, maka lingkungan manusia akan menjadi asri dan menyimpan serta menghasilkan kandungan air yang melimpah. Tetapi kadang kehendak dintara manusia sering tidak seiring, seirama, dan tidak berpikiran yang sama. Hal itu perlu dimaklumi. Dilain tempat memelihara lingkungan hidup, namun dilain tempat memberangus pepohonan. Maka jika terjadi bencana,  dan alamlah yang divonis bersalah. Seringkali fenomena alam dalih yang enteng dinyatakannya. Padahal tanaman dan air, bagai keharmonisan kasih sayang layaknya memadu cinta abadi.

Saksi Alam dan saksi kehidupan manusia selanjutnya yaitu air. Manusia tanpa air, dipastikan kering kerontang. Sebab manusia dipenuhi oleh kadar air, maka tanpa air manusia lambat laun akan mengering dan kemudian akan mengalami kematian. Oleh karena itu, keberadaan air sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia sehingga manusia menggunakan air untuk kebutuhannya, sebagai ilustrasi antara lain  :
  1. Untuk Minum
  2. Untuk Mencuci
  3. Untuk Mandi
  4. Untuk Memasak
  5. Untuk Peliharaan Tanaman, Kolam dan Ternak
  6. Untuk Membantu Penggerak Mesin
  7. Untuk Usaha ; transportasi, kolam ikan, pembuatan garam dan lain-lain
  8. Untuk Kesenangan ; Rekreasi dan olahraga
  9. Untuk Obat
  10. Untuk Upacara Ritual
Banyak lagi manfaat air dan berjasa bagi kehidupan manusia, walaupun tanpa disadari  dan manusia sering melupakannya, tetapi   air tidak  menuntut sesuatu dari manusia. Hanya alangkah nisbinya jika manusia mengabaikan keberadaan air padahal air yang menjadi salah satu zat hidupnya. Sangat beretika jika manusia yang berakal memelihara dan menghormati air sekaligus menyadari siapa Pencipta-Nya. Cobalah renungkan sejenak tatkala akan memanfaatkan air. Sebab kenyamanan hidup manusia banyak ditentukan diantaranya oleh air dan hawa angin. Air dan angin, bagai kelembutan sutera namun suatu saat keduanya bisa berubah menjadi malapetaka. Maka tergantung cara manusia memperlakukannya. Apakah diperlakukan sebagai sahabat yang bermartabat atau diposisikan sebagai lawan berseteru ?, terserah.

Saksi alam lainnya bagi kehidupan manusia, yaitu angin. Udara sejuk yang disertai angin sepoi-sepoi sering meninabobokan kenyamanan aktifitas manusia. Tanpa disadari semilir angin tengah sirkulasi kedalam tubuh manusia, bahkan gerakan angin sering membawa zat yang tanpa diketahui, apakah yang terhirup hidung membawa kenikmatan atau malah sebaliknya akan menjadi petaka. Dialah angin yang suka dinyatakan gaib, terasa hidup bergerak  tetapi tidak terlihat.

 
Deburan ombak diterpa angin 

Angin merupakan bagian dari tubuh manusia melalui pernapasan dan sejatinya selalu memompa detak jantung, tetapi jika manusia kurang beradab dengan kehadiran angin dalam tubuhnya mungkin saja dari kenyamanan bisa berubah menjadi penyakit. Angin atau udara telah banyak berjasa terhadap kehidupan manusia. Mendesaknya keperluan hajat hidup manusia, banyak memotivasi manusia merekayasa alat agar menghasilkan udara maupun kekuatan angin semata. Sungguh cerdas manusia yang menerima wahyu akal sehingga mampu memanfaatkan angin. Sadar ataupun tidak kehadiran angin sangat penting dan Pencipta-Nya tidak menunggu dari manusia walau hanya basa-basi telah menggunakan angin hawa mul mujijati Allah. Malah mungkin beranggapan bahwa angin, produk dari fenomena alam. Begitulah manusia. Namun suatu saat anginpun kadang menuntut kesadaran manusia yang telah memanfaatkan tanpa bersyukur  kepada Sang Pencipta-Nya. Apabila tanpa bersyukur, tunggulah Saksi Alam maupun Saksi  Manusia tersebut beraksi yang akhirnya menjadi bencana bagi manusia.

Sering manusia menamakan amukan Sang Bayu diistilahkan puting beliung, angin puyuh, tornado atau dudung dan apa pula namanya, namun yang jelas kedasyatan angin oleh siapapun manusia tidak akan mampu menahannya. Bahkan suka terjadi gerakan angin seolah-olah berlari saling berkejar-kejaran, saat itulah angin tengah melakukan perkawinan. Ternyata perkawinan tidak hanya melulu dilakukan manusia atau binatang saja, angin pun sama melakukan perkawinan. Sungguh sangat luar biasa dan apabila menyaksikan kedasyatan angin, kiranya  manusia wajar menyatakan dengan berdoa : Haldamma Kolama Hawa Mul Qodrat Ya Allah. 

Oleh karena itulah, dari rangkaian Saksi Alam Matahari, Bumi, Air dan Angin serta saksi alam lainnya, Siliwangi senantiasa menganjurkan khususnya kepada keluarga dan keturunannya agar menghormati seisinya alam jagat raya serta kepada Pencipta-Nya. Siliwangi sangat komitmen memelihara alam dan menjunjung tinggi Saksi Alam. Karena saksi tersebut, diyakini merupakan suatu utusan langsung dari Sang Maha Pencipta-Nya.

 
Orangtua tengah berdoa khusu

Dibeberapa tempat Siliwangi menyukai meditasi, suatu cara menyatukan jiwa dengan zat alam sekitarnya, dan prilaku itu pun salah satu upaya menghormati terhadap Saksi Alam. Siliwangi terus memelihara lingkungan hidup dengan harapan anak keturunannya akan terus bisa hidup dari kekayaan alam. Oleh  karena itu, Siliwangi senantiasa senang membuat hutan.  Saking menyukai lingkungan hutan, selalu buatannya dinyatakan “keramat” atau “hutan larangan”. Padahal itu semata-mata agar anak keturunannya selalu menjaga kelestarian hutan. Sebab jika hutan rusak, maka sumber kehidupannya akan menjadi sengsara. Sebagaimana dimaklumi, bahwa Siliwangi menyenangi makan tumbuh-tumbuhan dan binatang liar seperti rusa maupun ikan.

 Maka disamping hutan selalu dinyatakan “keramat” juga Siliwangi senang memelihara aliran sungai bahkan membuat segara/situ/danau. Dari konservasi itulah diharapkan ikan kesukaannya akan melimpah. Itulah leluhur Siliwangi dalam upaya memelihara Alam Semesta, sehingga pantas ditiru dalam konteks konservasi alam kini, setiap hutan lindung sebaiknya dinyatakan “KERAMAT” dan perusak lingkungan patut dinyatakan sebagai “PELOPOR KIAMAT”, setujukah anda ?

Terima kasih dan salam hormat untuk orang tuaku di Cipaku yang telah membimbing penyusunan tulisan ini.



0 komentar :

Poskan Komentar

Terimakasih Anda sudah berkunjung di blog Abah Apep.
Silahkan tinggalkan jejak kunjungan Anda dengan memberikan komentar di sini, secara bijak dan sopan.

Sekilas Mengenai Blog Ini

Popular Posts

Blog Headline

Nu Mikaresep

Komentar Masuk

Blog Archive